Ini adalah cerita masa remaja yang pada waktu itu aku masih berusia 10 tahun, tidak aneh waktu itu seusia saya sudah bergaul dengan teman - teman yang usianya diatas saya, walaupun demikian di kampung saya selalu di warnai dengan kegembiraan yang tiada pernah padam. Salah satu cerita ini mungkin juga agak menggelitik, dan agak gimana gitu bukan bermaksud yang gimana - gimana akan tetapi memang ceritanya agak gimana? gitu hehe.. harap maklum juga kalau tulisanya agak jelek karena tintanya hampir habis hahaha..
Waktu itu sekitar tahun 1988 kalau gak salah sekitar jam 3 sore dan harinya saya masih lupa pada saat itu saya bersama teman - teman lagi main petak umpet, saya juga gak tau itu ide dari mana yang saya ingat saat saya barmain dengan 6 teman saya yang menjadi penjaganya adalah Dirman, dan setelah dia berjaga saya dan teman lainya mencari tempat persembunyian yang menurut saya dan teman - teman aman untuk bersembunyi, semuanya berpencar sedangkan saya dan teman saya Supriyadi bersembunyi di salah satu rumah tetangga saya yang jaraknya dari rumah saya sekitar 15 rumah. Sebut saja rumahnya mbak Ida, mbak Ida adalah guru sekolah dasar di lain kecamatan dan masih pengantin baru. Mbak ida sangat baik dengan anak-anak di kampung saya, suaminya mbak Ida bernamaa mas Ari yang juga seorang guru juga sangat humoris dan suka berinteraksi dengan anak - anak di kampung saya. Meskipun begitu anak - anak juga menghormatinya karena mbak Ida juga seorang guru. Pada saat itu di daerah kampung saya belum ada rumah bangunan yang bagus seperti sekarang ini, waktu itu rumah di daerah saya masih rumah kayu yang pintu kamarnya masih kelambu dan berjajar 3 kamar di ujung belakang, hampir semua rumah di daerah saya settingnya sama.
Kembali pada cerita saya yang tadi, saat Dirman berjaga teman lainya berlari mencari perlindungan dan saya dan Supriyadi berlari masuk ke rumah mbak Ida saya dan supri menyelinap di kolong tempat tidur walaupun dikolong tempat tidur gelap dan bau tikus clurut tapi enjoy juga, saya berdua sama - sama ndlosor (tengkurap) sambil ngintip keluar karena dindingnya masih gedeg (anyaman kulit bambu) lha njelalah (tiba - tiba)di kolong tersebut ada kodok saya kan takut dan jijik, akhirnya saya pindah dan berdiri di arah bawah ranjang tidur dari bambu itu, saya berdiri di balik kloso pandan (tikar anyaman daun pandan) yang di gulung dan di berdirikan di sudut kamar, agak lama saya berdiri di situ dan entah dari mana saya juga gak tahu tiba - tiba mbak Ida masuk dan rebahan di ranjang tersebut dan tak lama kemudian mas Ari masuk menyusul mbak Ida yang lebih dulu rebahan di ranjang bambu yang ada kasurnya itu, mereka gak mengetahui kalau di dalam kamar tersebut ada 2 orang anak yang bersembunyi, sedangkan Supriyadi tak mengetahui apa yang terjadi di atas ranjang tersebut karena bersembunyi di bawah tempat tidur bambu dan saya juga agak takut melihat mbak Ida dan mas Ari sedang melakukan apa itu namanya saya gak tau yang jelas pakaian mbak Ida yang atas sudah di lucuti mas Ari, hahaha... merinding saya mengingatnya, waktu itu, mungkin sekarang namanya (Foreplay) saya sangat berkeringat dan ketakutan yang tak terhingga dan memutuskan untuk berlari dari kamar tersebut, maklum kamar tanpa pintu, setelah pelan - pelan mengendap - endap dan wuuush.... saya kabur dari kamar yang menakutkan itu dan berlari sekuat tenaga sampai gak terasa kelambuya nyangkut tangan saya dan terlepas, hahahahaha mungkin lucu bagi pembaca tapi menakutkan bagi saya, saya terus berlari dan bersembunyi sedangkan supriyadi masih tertinggal dan bersembunyi disana dan saya amati dari jauh mbak Ida menggenggam bajunya sambil menutupi dadanya, tak lama berselang supri juga keluar dan lari dari kamar dan mbrosot di antara mbak Ida dan mas Ari, supri juga gak sadar pada saat lari itu juga nyangkut kain yang di dekap mbak Ida alhasil mbak Ida yang dari tadi mendekap kain untuk menutupi dadanya lepas seketika dan mbak Ida berteriak walau gak begitu keras, mungkin agak malu. sedangkan Supri di tangkap mas Ari karena terjatuh saat keserimpet kainnya mbak Ida tadi. Walaupun marah tapi pasangan pengantin baru itu masih mentolerir sikap anak - anak yang mereka pikir masih belum nalar, dan setelah itu buyarlah permainan petak umpet yang kami mainkan tadi tanpa ada pemenang permainan. hehehe... sekian dulu kisah masa kecilku dan masih banyak cerita lucuku yang lain. di tunggu ya......
No comments:
Post a Comment
Monggo Opininya